LAKI-LAKI, PEREMPUAN DAN STEREOTIP GENDER



LAKI-LAKI, PEREMPUAN DAN STEREOTIP GENDER

Sebelum membahas lebih banyak, sekedar mengingatkan aja bahwa dalam dunia digital semua serba mudah, seperti akses untuk belajar, mencari informasi atau sekedar ingin mencari sesuatu yang menarik. Adanya produk teknologi yang mudah dibawa kemana-mana seperti smartphone atau laptop, tentu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sehingganya dari kemudahan akses tersebut dibarengi dengan kemampuan kita dalam beradaptasi dalam menambah pengetahuan dan wawasan yang tersebar luas di dunia digital.

Beberapa kali memilih menonton vlog atau podcast saat dilanda rasa malas membaca suatu informasi tapi terkadang menulis kembali isi video tersebut dan mencari sumber-sumber yang relevan dengan topik pembahasan, sebagai bentuk self aware agar menelan informasi tidak mentah dan apatis. Ada salah satu vlog yang kali ini cukup menyita perhatian ketika berada di ruang dunia maya ataupun ruang realita hari ini yang rasa-rasanya menarik untuk dibahas karena masih relevan. Mari simak tulisan ini yang terinspirasi dari Vlog-nya Gita Savitri dengan judul “Apakah Cowok dan Cewek Berbeda?” dan beberapa sumber penelitian/jurnal atau artikel dengan harapan yang akan dibahas lebih kompleks dan berkelanjutan. Pembahasan kali ini tentang dunia perempuan dan laki-laki, identitas gender dan kesetaraan gender. Please you’re attentions.

Seringkali kita masih melihat cara orang atau masyarakat dalam menggambarkan laki-laki dan perempuan secara simple tetapi tujuannya untuk menjadi tolak ukur pembeda yang di generalisasi dan seolah itu mutlak. Sebagai contoh sederhana yang sering kita jumpai dalam lingkungan sampai media sosial yaitu seperti poster digital memperlihatkan dua pembagian kalau kamar cewek selalu bersih dan rapih sedangkan cowok sebaliknya, atau dalam hal barang, pakaian atau yang lainnya menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Adapun mungkin pernah dengar atau pernah melontarkan kalimat, “cewek tuh ribet banget kalau mau keluar, sedangkan cowok simpel aja gak perlu dandan segala macem”. Hal ini menjadi fenomena masyarakat yang mementingkan identitas gender, terutama dalam konsep gender binary yaitu cowok dan cewek.[1]

Lalu….. Apakah cowok dan cewek seberbeda itu kah? Oleh karena itu sebelum membahas tentang perbedaan cowok dan cewek terlebih dahulu mari kita telusuri perbedaan seks dan gender. Seks adalah karakter biologis seorang manusia. Dilihat dari organ reproduktif, kromosom dan hormon. Contoh: laki-laki mempunyai testis dan perempuan memiliki vagina atau ovarium. Sementara gender adalah karakter maskulin dan feminim yang dimiliki seseorang dalam konteks kultural dan sosial. Mengacu pada perilaku, sifat dan sikap.

Identitas gender adalah bagaimana pandangan orang terhadap karakteristik feminim dan maskulinnya, yaitu jati diri sebagai perempuan atau laki-laki yang merasa sudah sesuai dengan seks-nya atau karakter biologisnya dan ada juga merasa seks dan gendernya berbeda. Menurut pandangan pendek terkait perbedaan cowok dan cewek hanya putih dan hitam saja, jika mempunyai testis artinya dia laki-laki dan kalau punya ovarium atau vagina artinya dia perempuan. Jadi mari kita bahas terlebih dahulu perbedaan laki-laki dan perempuan: Pertama berdasarkan kromosomnya:

Pembentukan jenis kelamin laki-laki dan perempuan ditentukan saat pembuahan oleh kombinasi kromosom seks: perempuan memiliki dua kromosom X (XX), sedangkan laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY). Bayi perempuan terbentuk jika sperma pembawa kromosom X membuahi sel telur, dan bayi laki-laki terbentuk jika sperma pembawa kromosom Y yang berhasil membuahi sel telur. Proses ilmiah penentuan dan terbentuknya jenis kelamin melalui kromosom ini dibahas dalam beberapa publikasi sains dan jurnal biologi reproduksi:

  1. Konsep Dasar Genetika dan Kromosom: Dalam jurnal sains menjelaskan secara rinci bahwa manusia memiliki 46 kromosom (23 pasang), di mana 22 pasang merupakan kromosom tubuh (autosom) dan 1 pasang adalah kromosom seks (gonosom) yang menentukan jenis kelamin. Peran kromosom dalam sex dapat dilihat pada pasangan kromosom ke 23 dimana XX itu perempuan dan XY itu laki-laki.
  2. Peran Genetik Spesifik (SRY): Jurnal ilmiah mengenai Dasar Biologis Variasi Jenis Kelamin yang diterbitkan di Universitas Airlangga menjelaskan bahwa kromosom Y memegang peran utama. Ujung kromosom Y mengandung gen Sex-determining Region Y (SRY) yang memicu pelepasan hormon testosteron, yang kemudian memicu pembentukan organ reproduksi laki-laki.

Namun dalam hal ini bukan berarti dalam mengartikan jenis kelamin itu terbatas, pada faktanya penelitian selalu berkembang dan hasilnya tidak sederhana secara fisiknya, ada beberapa kelainan dalam pembentukan pada kromosom seks. Di ujung kromosom Y ini terdapat yang bernama SRY, yang kemudian memicu dilepasnya hormon laki-laki atau testosteron. Sejak saat itu terjadi proses maskulinisasi dan defeminisasi. Ada kalanya, proses ini tidak terjadi secara sempurna. Misalnya proses maskulinisasi untuk membentuk alat reproduksi laki-laki terjadi, tapi defeminisasi tidak terjadi dengan baik. Kesalahan-kesalahan dalam alam seperti ini dapat terjadi di berbagai level, dari level genetis, level hormonal, sampai dengan level morfologis. Karenanya, kelelakian atau keperempuanan makhluk hidup manusia kadang tidak sesederhana yang dibayangkan. Lebih lanjutnya kalian bisa mencari apa saja bentuk kelainan pada kromosom ke 23 atau kromosom seks.

Kedua berdasarkan hormon. Hormon adalah chemical substances yang diproduksi oleh kelenjar di seluruh badan dan dibawa oleh aliran darah dan berperan sebagai messenger. Ada tiga hormon yang dikaitkan dengan seks seseorang: testosterone, progesteron dan estrogen. Semua manusia memiliki tiga hormon tersebut. Ini membahas lebih lanjut dalam pembahasan sebelumnya, jika secara jenis kelamin dapat dibedakan berdasarkan populasi terbanyak secara statistik itu ada dua (laki-laki dan perempuan) dan kemudian gender mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin seseorang dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. Namun dalam sains Jenis Kelamin dan Gender tidaklah sesederhana yang diperkirakan masyarakat. Tidak seperti anggapan umum, bahwa jenis kelamin itu tidak hanya ada dua (laki-laki dan perempuan), demikian pula fenomena laki-laki yang dianggap berperilaku feminin, dan perempuan berperilaku “tomboy”, sering dianggap karena pengaruh lingkungan atau tontonan di TV, sehingga mereka menjadi seperti itu.

Hormon adalah pembawa pesan kimiawi dalam tubuh yang diproduksi oleh kelenjar dan jaringan. Hormon mengalir melalui aliran darah untuk memberi tahu organ, otot, dan jaringan tentang apa yang harus dilakukan dan kapan waktunya. Zat ini berperan penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti pertumbuhan, metabolisme, dan reproduksi. Fokus dalam pembahasan ini yaitu hormon yang berperan pada fungsi reporoduksi manusia (laki-laki dan perempuan), hormon mengendalikan seluruh proses biologis mulai dari masa pubertas, siklus menstruasi dan ovulasi, produksi sperma, hingga terjadinya pembuahan dan kehamilan. Tanpa keseimbangan hormon, fungsi reproduksi akan terganggu dan berdampak pada kesuburan.

Ada kasus pada perempuan, suatu kondisi yang dapat terjadi adalah yang disebut dengan Adrenogenital Syndrome (AGS). Penyebab AGS adalah kelainan produksi hormon pada bayi perempuan, di mana kelenjar adrenalin tidak cukup memproduksi kortisol. Kelenjar pituitari mengetahui hal ini dan kemudian mensekresi banyak hormon corticotropin agar kortisol meningkat. Hormon ini kemudian menyebabkan kelenjar adrenalin memproduksi terlalu banyak hormon intermediari, sehingga ini menyebabkan terjadinya virilisasi. Bayi perempuan dalam kandungan yang mempunyai AGS akan mempunyai eksternal genitalia, atau alat kelamin luar, yang menyerupai alat kelamin luar laki-laki, dan juga berpengaruh pada perilaku; yaitu aktifitas yang lebih kelelakian, sikap yang agresif, peran gender yang lebih ke arah lelaki, penampilan yang kelelakian, dan ketertarikan pada perempuan.

Pada usia kehamilan 8 minggu terjadi polarisasi oleh kromosom Y, yang dimiliki oleh individu laki-laki. Ekspresi gen ini bisa terjadi ekstrem, setengah, atau juga seperempat. Manusia itu sendiri tidak bisa memilih. Jika hanya seperempat misalnya, maka dia akan menjadi lebih feminin dari pada laki-laki lain. Ada penelitian yang memberikan hasil bahwa apa yang terjadi ketika individu masih di dalam perut, dapat menyebabkan kelainan pada individu setelah dia lahir. Diduga, eksposur terhadap bahan kimia untuk melembutkan plastik, bernama phthalates dapat menyebabkan beberapa hal, seperti dimuat di International Journal of Andrology. Hal ini akan menyebabkan produksi testosteron yang rendah, dan kemudian menyebabkan perkembangan alat reproduksi yang tidak normal, dan juga diduga dapat mempengaruhi perilaku bermain ketika masih anak-anak di mana dia akan lebih menyukai permainan anak perempuan. Akan tetapi, perlu diteliti lebih lanjut tentang hal itu, dengan sampel lebih banyak. Yang pasti, effeminacy tidak selalu terkait dengan orientasi seksual. Laki-laki yang mempunyai perilaku tidak terlalu maskulin banyak dijumpai, dan sebagian besar mempunyai orientasi seksual terhadap lawan jenisnya. Semua pembahasan mengenai sains diambil dari sumber jurnal ilmiah mengenai Dasar Biologis Variasi Jenis Kelamin yang diterbitkan di Universitas Airlangga.

Sebagai kesimpulannya jika dilihat dari sudut pandang sains ternyata pertumbuhan manusia sebagai laki-laki atau perempuan tidak sesimple itu, tetapi pada kenyataannya terjadi over simplefication biology menjadikannya sebagai justifikasi dan membuat level perpedaan antara laki-laki dan perempuan di lingkungan masyarakat yaitu dengan adanya steorptip gender. Hal ini dapat ditemui pada pola asuh anak dan bagaimana masyarakat memperlakukan anak sesuai dengan gender yang dipercaya sebagai identitas mutlak. Akibat pola asuh orang dewasa yang mengkotak-kotakkan apapun terkait jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan akhirnya ketika anak tumbuh dewasa akan memiliki definisi yang sempit terkait kelaki-lakian dan keperempuanan mereka. Hal ini menyebabkan dan membentuk pandangan stereotipikal.

Sumber penelitian yang dilakukan oleh Janet Shibley Hyde melalui telaah terhadap 46 meta-analisis, Hyde menunjukkan bahwa mayoritas perbedaan gender berada pada kategori sangat kecil hingga kecil. Dari 124 ukuran efek yang dianalisis, sekitar 78% perbedaan gender tergolong kecil atau mendekati nol, sehingga tidak cukup kuat untuk menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara mendasar dalam kemampuan psikologis maupun kognitif. Penelitian ini juga menegaskan bahwa perbedaan gender dapat berubah sesuai usia, konteks sosial, dan situasi pengukuran. Misalnya, perbedaan dalam kemampuan matematika atau rasa percaya diri terhadap komputer dapat muncul lebih besar pada usia tertentu karena pengaruh lingkungan, stereotip, pendidikan, dan harapan sosial. Dengan demikian, perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan tidak selalu bersumber dari faktor biologis, melainkan sering kali dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan konteks budaya. Beberapa pengecualian tetap ditemukan. Perbedaan gender yang cukup besar tampak pada aspek kemampuan motorik tertentu, seperti kekuatan genggaman, kecepatan dan jarak lemparan, terutama setelah masa pubertas. Selain itu, beberapa aspek seksualitas dan agresi fisik juga menunjukkan perbedaan yang lebih nyata. Namun, pengecualian ini tidak mewakili keseluruhan kemampuan psikologis, kognitif, dan sosial manusia.

Ada istilah Brain Plasticity. Also known as neuroplasticity is a term that refers to the brain’s ability to change and adapt as a result of experience. Jika kita terlalu menjustifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dalam lingkup yang sempit maka bisa bermanifestasi menjadi tingkah laku yang sebenenarnya. Contoh perempuan lebih berempati, itu terjadi demikian karena mereka di expect oleh masyarakat atau stereotip gender kalau perempuan memiliki empati lebih besar dari laki-laki begitupun sebaliknya. Kombinasi knowing dan being yang membuat perempuan secara tidak sadar jadi makin membatasi diri. Futher limiting women because they now believe that they can’t. ada narasi perempuan tidak dapat membaca peta sehingga membuat perempuan menganggap beneran buruk dalam orientasi arah.

Padahal otak manusia itu berkembang secara adaptif dan faktor perkembangannya bisa dipengaruhi faktor eksternal misal pola pengasuhan, jika dalam lingkungan misal patriarki maka perkembangan otak jika tidak ada kesempatan dalam lingkungannya akan membentuk perilaku yang diinginkan oleh masyarakat konservatif dengan stereotip gender yang kuat. Stereotip gender bisa mempengaruhi kehidupan profesional atau karir manusianya. Banyak stereotip job yang diasosiasikan pada gender tertentu, misal pekerjaan kekuatan fisik, keberanian, dan ketegasan untuk gender maskulin dan cocok dengan laki-laki, begitupun pekerjaan yang membutuhkan sifat mengasuh (nurturing), melayani, teliti, dan sabar dicocokkan pada perempuan. Oleh karena itu konstruk sosial dalam stereotip gender dapat membatasi potensi individu dan memicu kesenjangan.

Jadi seberapa penting representasi perempuan di ruang publik? Meskipun penelitian di atas mengatakan tidak banyak perbedaan yang besar terhadap laki-laki dan perempuan. Namun ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa tingkat minat perempuan dalam bidang Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika (STEM) dalam tingkat profesi masih belum terwakilkan. Hal ini membuat stereotip gender yang mengatakan laki-laki lebih unggul dalam matematika, logika semakin terasa dan membuat kepercayaan perempuan makin tidak cocok dengan bidang tersebut. Hal ini relevan jika seseorang itu perlu adanya role model agar relate dan dapat mevisualisasikan diri berdasarkan kompetensinya. Sehingganya dari banyaknya penelitian, artikel atau podcast yang membahas mengenai laki-laki dan perempuan maka dapat disimpulkan bahwa identitas gender itu sifatnya kompleks dan tidak dapat dikotak-kotakkan dengan konteks yang sempit. Sebagai masyarakat kita harus bijaksana dalam memahami hal ini agar dapat melihat manusia itu secara utuh dan tidak menjadi penghambat dalam tumbuh kembang manusia. Agar kita belajar bahwa dari konstruks sosial, mendikotomikan, mengkotak-kotakkan gender tersebut akan menyebabkan penginternalisasian seseorang secara sempit dalam melihat dirinya dan kompetensinya.

Sumber Referensi yang dirujuk:

https://youtu.be/EbsbtpUuUd8?si=oX0DWrE_-Ed88PgC

https://media.neliti.com/media/publications/621240-biologi-reproduksi-dan-genetika-dasar-6dcfb8d2.pdf

https://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-bk799d5debeefull.pdf

https://www.apa.org/pubs/journals/releases/amp-606581.pdf



[1] Biner gender (juga dikenal sebagai binerisme gender, binerisme, atau genderisme) adalah klasifikasi gender menjadi dua bentuk berbeda yakni maskulin dan feminim, entah oleh sistem sosial atau kepercayaan budaya. 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Geprek Langgananku Naik!

MANUSIA

Tulisan Tanggal 30/09/2022