Harga Geprek Langgananku Naik!


 

Harga Geprek Langgananku Naik!

 

Baiklah kali ini ogut akan beropini sedikit tentang sesuatu yang baru-baru ini jadi perbincangan dan sepertinya jika kita analisis memiliki pengaruh yang signfikan terhadap aktivitas ekonomi. Berita kali ini agaknya mendapat sorotan yang cukup ramai. To the point aja sih apalagi kalau bukan berita Harga PLASTIK naik! Wah wah tadinya hanya desas desus kayak biasanya harga cabai naik biasanya pas menjelang lebaran dan kemudian harga kembali normal setelah lebaran, kali ini seperti sesuatu yang baru dan jarang sepertinya terjadi karena plastik selalu banyak peminatnya disegala produk khusunya UMKM dan harga tidak banyak mengalami gunjangan.

Terus apa dong yang mau dibahas dalam tulisan ini—wait! Aku mau flasback bentar, singkat cerita ogut pesen langganan geprek (biasa anak kosan makannya ayam jaket mulu gak patut dicontoh ya!) harga selalu kutanyakan antisipasi kalau kurang—seperti biasa pasti akan dijawab dan aku selalu PD harga pasti akan sama kayak kemarin. Ohhh ternyata tidak, spotan saja Bapaknya menjelaskan kalau kenaikan harga disebabkan harga plastik naik—la kok bisa? Kejadian selanjutnya di toko plastik yaps langsung kesumbernya. Belum juga masuk toko aku mendengar ada presentasi ringan nihh dari owner toko tentang harga cup gelas yang naik dari harga Rp. 17.000 jadi Rp. 23.000 kepada custumernya. Ogut menebak custumernya pasti pelaku UMKM yang bahan utama kemasannya menggunakan cup gelas. Tidak sampai disitu saja, bahkan konten-konten sosial media beberapa kali menampilkan tema kemasan yang diparodikan dengan mengganti cup gelas dengan daun pisang, belanjaan yang dikemas dengan seutas tali bukan kantong asoy. Baiklah itulah seputar yang melatar belakangi tulisan ini lahir. Jadi kira-kira kenapa ya harga plastik naik? Kemudian apa dampak fenomena tersebut bagi UMKM? 

Pertama, kenaikan harga suatu barang biasanya dikarena adanya SCARCITY atau kita sebut dengan “kelangkaan”. Lohhh plastikkan mudah ditemui kok bisa terjadi kelangkaan. Pada beberapa laman berita online menampilkan fenomena apa yang membuat harga plastik naik, salah satunya yang dilansir ugm.ac.id bahwasannya harga bahan baku plastik melonjak karena konflik geopolitik Timur Tengah dimana adanya ganguan logistik dari selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan minyak. Hal tesebut mempengaruhi biaya produksi dan juga dalam kondisi konflik ini banyak negara eksportir dan pengolahan minyak memprioritaskan ketersediaan bahan bakar untuk transportasi dan pemanas dibandingkan produk turunan petrokimia lainnya salah satunya bijih plastik. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi plastik saat ini sebagian besar ditemukan di alam, dan meliputi selulosa, batu bara, gas alam, garam, dan minyak mentah. Konflik ini menyebabkan berkurangnya dan kelangkaan suplai biji plastik di pasar internasional.

Kedua, berkurangnya atau kelangkaan suplai bijih plastik tersebut dapat mempengaruhi harga yang ada di pasar atau dalam ilmu ekonomi disebut dengan cosh-pull inflation (inflasi dorongan biaya) adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi, seperti bahan baku atau upah tenaga kerja. Fenomena ini memaksa produsen menaikkan harga jual untuk melindungi margin keuntungan, meskipun permintaan konsumen tetap. Hal ini disebabkan adanya kontroling pasar terhadap harga karena pengaruh efesiensi yang menjadi faktor kelangkaan tesebut. Namun yang menjadi catatan disini bahwasannya sektor industri di Indonesia memiliki ketergantungan impor bahan baku yang tinggi yaitu 70% masih dipenuhi dari luar negeri. Sehingganya industri dalam negeri rentan dalam menghadapi dampak global yang mana berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi itu sendiri.

Fenomena ini diperkiraan akan berlangsung cukup lama, akibatnya pihak yang berdampak dari fenomena ini adalah pelaku usaha UMKM. Coss-pull inflation menyebabkan harga platik di pasar melonjak sampai 100% ini sangat mempengaruhi permintaan akan suatu barang dalam pasar. Para pelaku UMKM memutar strategi untuk tetap dapat memenuhi operasionalnya dan mempertahankan jumlah produksi dan konsumen akibat dari rantai fenomena ekonomi ini. Kasus ini dikhawatirkan dapat berimplikasi pada stabilitas ekonomi secara luas, termasuk daya beli masyarakat.

Ketergantungan pada plastik ini juga menciptakan kontroling pasar sampai dengan stabilitas ekonomi, dimana dari sisi kebutuhan akan plastik sangat tinggi hampir menyentuh segala sisi kebutuhan industri dan belum dapat digantikan dengan bahan lain. Maka dalam hal ini yang perlu pemerintah upayakan adalah dengan mendorong disferifikasi sumber bahan baku dengan melakukan research secara mendalam agar dapat menghadirkan kategori plastik yang berasal dari sumber biomassa terbarukan. Hal ini sangat berbeda dengan plastik tradisional yang terbuat dari cadangan minyak bumi yang terbatas. Sumber umum untuk produksi bioplastik meliputi: Pati dari tanaman seperti singkong, jagung, dan bit gula. Dengan ini dapat meningkatkan atau memperkuat fondasi industri nasional sebagai upaya kemandirian ekonomi dan tahan terhadap gejolak eksternal.

Comments

Popular posts from this blog

MANUSIA

Tulisan Tanggal 30/09/2022