Kata "TERLALU" selalu melekat pada Perempuan
"Menjadi perempuan memang tidak gampang", mungkin bagi sebagian perempuan akan berkata seperti itu. Terlalu banyak tuntutan sampai kritikan bahkan pertanyaan yang relatif ke perempuan Saat berada di lingkungan masyarakat.
Ada kutipan puisi yang tadinya sempat kudengar dari mbak najwa Shihab di chanel youtubenya. Dan aku pun akhirnya Penasaran keseluruhan dari Narasi puisi ciptaan Lucia prandarini. Judulnya:
"Perempuan-perempuan Yang Terlalu"
Perempuan-perempuan memang selalu terlalu
Gincu terlalu merah untuk sekedar mengantar anak ke Sekolah
Rok terlalu pendek, Pantas saja diganggu
Hijab terlalu panjang hati-hati jatuh saat naik sepeda
Tertawa terlampau kencang
Melihat ponsel terlalu sering
Dandan berlebihan, nanti jadi godaan
Terlalu sibuk, tak sempat menunggui anak belajar
Gajinya terlalu tinggi, apalagi jabatannya
Sekolah terus, cita-cita terlalu banyak
Terlalu cerdas, nanti susah cari Suami
Terlampau pintar cari uang
Pendapatan Istri jangan lebih tinggi dari Suami
Perempuan memang selalu TERLALU
Untuk yang ketakutan melulu
-Lucia Priandarini
Dari puisi diatas, adapun sudut pandang dariku yang ingin ku tulis. Yang mengkritik atas penampilan, fisik, sampai ranah privasi itu malah biasanya sesama perempuan, baik dari subjek dan objeknya.
Perempuan kerap kali dipertanyakan, kerap kali dibandingkan dalam berbagai aspek kehidupan. Dan perempuan selalu dilanda tekanan dan ekspektasi sosial yang banyak maunya. Mulai dari bagaimana berpakaian, cara berbicara, dan banyak lagi.
Membicarakan perempuan akan selalu dikaitkan dengan budaya patriarki, dimana tubuh perempuan dikonsumsi sebagai objek salah satunya objek pandangan.
Adapun hal-hal yang pernah perempuan alami, seperti jangan keluar malam itu tidak baik, awas loh jangan pakai baju yang terbuka nanti malah bikin laki-laki tergoda, jangan keluar rumah terus nanti dikira perempuan nakal sama tetangga. Semua itu tentang objek pandangan orang lain terhadap perempuan.
Ada juga hal-hal yang bikin perempuan minder dan tidak percaya diri karena perempuan selalu saja jadi bahan penilaian, kok kamu sekarang jerawatan, kok kamu sekarang gemukan ya, kamu habis dari mana kok agak gelepan, ehh lihat deh kok dia cantik banget ya wajahnya mulus terus putih lagi, anaknya si A yang pertama cantik ya tapi kok adiknya gak secantik kakaknya dan masih banyak lagi ragamnya. Lagi-lagi perempuan selalu jadi objek dan penilaian yang tak ada habisnya.
Ada kutipan buku yang aku ambil itu saja aku mengutip dari salah satu postingan di Instagram yang memang sengaja selalu kepoin postingan-postingannya. Kurang lebih isinya seperti ini "Tubuh yang indah, yang agak indah dan yang tidak indah sama sekali. Ada hierarki pemaknaan pada tubuh yang memaksa perempuan tidak lagi bebas dalam memandang tubuhnya sendiri." (Widya Nirmawati dalam bukunya yang berjudul tubuh perempuan)
Artinya kita sadar bahwa sebenarnya tubuh kita itu selalu didekte oleh lingkungan sosial dan kita perempuan selalu mau di dikte bahkan menurutinya itu mungkin sebagian atau malah masih dirasakan oleh setiap perempuan.
Menjadi perempuan memang terkadang tidak gampang, kita perempuan dibilang jangan terlalu dari berbagai hal yang dilakukan, supaya kita tidak dicap begini-begitu dilingkungan keluarga atau masyarakat. Dan perempuan selalu dihadapkan banyak pilihan yang tak jarang juga ketika sudah memilih, perempuan akan sering kali merasa bersalah terhadap pilihannya, ada yang merasa bersalah ketika dia di dalam kehidupan rumah tangga memilih menjadi ibu rumah tangga ada bayang-bayang penyesalan karena menyia-nyiakan atau mengubur impian dalam-dalam yang nyatanya dia akan terbayang-bayang.
Begitupun sebaliknya ketika memilih menjadi ibu yang bekerja tapi tak sebegitu menyesalnya namun, hujatan atau omongan pasti ada. Maka tak akan ada rampungnya ketika kita selalu mendengarkan omongan yang terkadang tak begitu ada pentingnya, jadilah, tetaplah menjadi perempuan yang teguh atas pilihan namun juga tak lupa dengan peran yang akan diambilnya.
Ada lagi quote dari mbak Nana (yang sebenarnya aku penganggum diksi" yang dia buat atas tindakan yang elok sangat).
"Mereka yang kerap mempertanyakan perempuan, justru adalah mereka yang kerap kali kebosanan atau tidak punya cukup kecakapan sehingga harus menjadi kehidupan orang lain sebagai hiburan."
Sambung lagi masih dengan diksi yang di sajikan oleh mbak Nana.
Pesona perempuan bukan soal kepuasan, tapi dari pengaruh yang mereka berikan. Perempuan dan pesonanya tak akan redup hanya karena ketidaksempurnaan, perempuan dan pengaruhnya tak akan surut hanya karena mitos keterbatasan.
Mengeluh dan kecewa adalah hal lumrah tapi tetaplah bangga dan bahagia menjadi perempuan. Jadikan rumah sebagai panggung bukan deret tembok yang memasung dari sudut kamar tidur diantara perangkat dapur hingga langkah-langkah besar kemanusiaan. Tetaplah berekspresi, merawat diri, mengembangkan apa yang kita ahli dan pantang mengubur ambisi.
Menjadi perempuan rasanya sepertinya memanggul dunia, tapi jika kaum ini saling menguatkan tak ada bobot yang tak mampu kita tanggung, sudah biasa.
Pasti tak asing dengan kalimat "dibalik pria sukses ada perempuan hebat di belakangnya." Mungkin tak relevan lagi untuk direvisi
Karena dibalik kesuksesan perusahaan, pemerintah atau sekedar langgengnya suatu hubungan selalu ada perempuan hebat dibelakangnya.
-Najwa Shihab
Catatan dari ku untuk diriku "teruslah goreskan atau ketikkan tulisan yang sangat istimewa muncul dari pemikiran, atau dari berlogika, berbahasa, mengamati sampai dari mengutip sana-sini, walau bahasa terlihat masih rancu setidaknya kamu sudah berani menulis dan terus belajar itu juga tak lupa, agar semoga lebih baik dari yang mungkin baik."
.
.
Thankyou, see you next post in my blogš¼
Comments
Post a Comment